Jenis-Jenis Uang di Indonesia, Sejarah dan Perbedaannya

Infokekinian.com – Saat ini terdapat dua jenis uang yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya, terdapat beberapa jenis-jenis uang  di Indonesia yang tersedia. Lantas, apa saja? Yuk, simak.

Sejarah Uang Indonesia
Setiap benda yang dapat diterima oleh setiap orang selama pertukaran produk atau jasa dapat digunakan sebagai alat tukar sebagai pengganti uang.

Oleh karena itu, uang yang dimaksud dalam pengertian tradisional bukan semata-mata rupiah yang kita gunakan saat ini.

Sebaliknya, uang adalah sumber daya yang umum diterima dalam ekonomi modern sebagai bentuk pembayaran untuk perolehan barang dan jasa, aset berharga lainnya, dan pembayaran utang.

Sejarah Uang Indonesia

Di lansir dari buku Uang Indonesia: sejarah dan perkembangannya mengatakan, jika uang merupakan sebuah alat tukar yang di gunakan masyarakat Nusantara pada saat masa lampau hingga digunakan saat ini.

Nama mata uang Indonesia, Rupiah, berasal dari kata Sansekerta rupee, yang berarti perak. Pada tahun 1832, kata “rupiah” pertama kali muncul pada uang kertas. Saat itu, kata “rupiah” digunakan untuk menerjemahkan kata “gulden”.

Penggunaan uang sebagai alat tukar untuk komoditas perdagangan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Penulis buku ini ingin melihat bagaimana uang dibuat, digunakan, dan didistribusikan ke seluruh bangsa selama berbagai era.

Setiap saat, pemerintah memiliki kebijakan yang berbeda. Dimulai dengan zaman VOC, Hindia Belanda, Jepang, dan berakhir dengan waktu setelah Indonesia merdeka.

Pembaca pada dasarnya dibawa kembali ke masa lalu untuk menyaksikan bagaimana uang berubah pada periode itu.

Pencetakan uang Republik Indonesia pada tahun-tahun awal kemerdekaan yang melalui prosedur yang sulit dan berbelit-belit, merupakan salah satu peristiwa yang dibahas dalam buku ini.

Dimulai dengan mengubah lokasi di mana materi terkait uang dicetak dan disimpan. Yang mana saat itu, Yogyakarta, Solo, dan Malang merupakan tempat lokasi percetakan uang.

Keberadaan bank sentral tidak diragukan lagi terkait dengan kebijakan tentang penerbitan mata uang.

De Javasche Bank, bank sentral pertama pada masa Hindia Belanda, baru didirikan pada tahun 1822, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Leonard Pierre Joseph Burgraaf Du Bus de Gisignies.

Bank Negara Indonesia (BNI) adalah bank sentral pertama di Indonesia yang didirikan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1946.

Keberadaan bank sentral ini membuktikan komitmen pemerintah dalam mengawasi keuangan publik.

Dalam perkembangan selanjutnya, Bank Indonesia yang muncul sebagai hasil dari nasionalisasi De Javasche Bank mengambil alih peran bank sentral.

Sejalan dengan kebijakan pemerintahan saat ini, prosedur pengeluaran uang juga mengalami perubahan.

Antara 1945 dan 1965, pemerintah dan Bank Indonesia, bank sentral negara, terus melakukan pengeluaran uang.

Sejak tahun 1965, kebijakan ini telah berubah. Penerbitan uang diberikan kepada Bank Indonesia, bank sentral negara, di bawah kewenangan penuh Keputusan Presiden No. 27 Tahun 1965.

Jenis Uang yang di Akui di Indonesia

Jenis Uang yang di Akui di Indonesia
Berikut adalah jenis-jenis uang di Indonesia yang telah di akui:

Uang Kartal

Kita menggunakan uang kartal lebih sering daripada giral dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Undang-Undang Bank Sentral Nomor 13 Tahun 1968 yang dikutip di atas, uang adalah alat pembayaran yang sah yang wajib diterima oleh masyarakat umum dalam bertransaksi barang dan jasa.

Kemampuan untuk menggunakan di mana saja, oleh siapa saja, kapan saja, bahkan dengan nilai nominal yang kecil, merupakan perbedaan uang kartal dengan giro.

Untuk mencegah agar uang kertas dan uang logam tidak mudah dipalsukan oleh pihak lain, maka Bank Sentral yang menerbitkan uang kertas harus mempertanggungjawabkan pembuatannya dan memperhatikan berbagai tindakan pengamanan.

Pemerintah Republik Indonesia pada awalnya mengeluarkan uang. Namun, UU Nomor 13 Tahun 1968 Pasal 26 Ayat 1 menyebutkan hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut.

Selain itu, pemerintah Indonesia membentuk Bank Indonesia sebagai satu-satunya entitas yang memiliki hak oktroi atau kewenangan untuk mengeluarkan uang dan hak ini sekarang dikenal sebagai Bank Indonesia.

1. Uang Logam

Salah satu jenis uang kartal adalah koin. Jenis uang logam ini biasanya terbuat dari emas atau perak karena kedua logam tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi dan stabil.

Bentuknya langsung dapat dikenali, memiliki ciri yang tidak mudah rusak, tahan lama, dan dapat dibagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa menurunkan nilai.

Menurut Wikipedia, koin ini memiliki tiga nilai:

  1. Nilai intrinsik dari komponen yang digunakan untuk menghasilkan uang, seperti jumlah emas dan perak yang digunakan
  2. Nilai Nominal, yaitu cap harga atau nilai yang tertulis pada mata uang. Misalnya, seratus rupiah Rp 100,00, atau lima ratus rupiah Rp 500,00
  3. Nilai Tukar (Riil), merupakan kemampuan uang tersebut uang ditukarna dengan barang atau daya beli uang. Misalkan, uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkan dengan satu buah kerupuk, sedangkan uang sebesar Rp. 5000,000 dapat ditukarkan dengan satu buah buku tulis.

Koin yang terbuat dari emas dan perak pada awalnya dinilai menurut tingkat dan berat logam yang dikandungnya, yang dikenal sebagai nilai intrinsiknya.

Koin saat ini hanya bernilai nilai nominalnya, yaitu jumlah yang tertera atau tercetak di atasnya.

2. Uang Kertas

Uang kertas adalah alat pembayaran yang sah dan merupakan uang yang terdiri dari kertas dengan gambar dan cap tertentu.

Nilai nominal uang kertas biasanya lebih tinggi dari nilai nominal uang logam di Indonesia saat ini.

Uang kertas didefinisikan sebagai uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari kertas atau bahan lain (yang menyerupai kertas) menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.

Uang kertas dengan nominal Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah), merupakan uang kertas dengan nominal tertinggi yang kini beredar.

Sedangkan uang logam, nilai nominal tertinggi yang beredar adalah Rp. 1.000,00 (seribu rupiah). Namun, manfaat koin berasal dari ketahanannya yang kuat dan juga dapat bertahan lama.

Sedangkan uang kertas lebih rentan rusak atau berubah bentuk, terutama jika terkena api atau cairan seperti air.

Ciri-Ciri Uang Kartal

Sukirno Sadono menguraikan ciri-ciri dari uang kartal dalam edisi ketiga bukunya Makroekonomi Teori Pengantar Edisi Tiga, sebagai berikut:

  1. Uang kartal berbentuk uang logam dan uang kertas
  2. Bisa digunakan untuk melakukan transaksi barang dan jasa secara langsung
  3. Dikeluarkan oleh lembaga yang di percaya oleh pemerintah.

Uang Giral

Uang Giral
Giral adalah bukti tagihan pada bank umum yang sewaktu-waktu dapat digunakan sebagai alat pembayaran, menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 yang mengatur tentang Perbankan.

Giro ini biasanya berbentuk surat berharga dan bukan dalam bentuk yang sama dengan uang.

Giral datang dalam berbagai bentuk yang sering digunakan, termasuk cek, giro, wesel, kartu kredit, kartu debit, dan banyak lagi. Penggunaan uang kartal jauh lebih mudah dan lebih bebas daripada penggunaan giral.

Giral dan kartal dibuat secara berbeda pada penciptanya, yang merupakan salah satu perbedaan yang kontras.

Giral dapat diproduksi oleh bank lain, termasuk bank swasta, yang sekarang ada di Indonesia, jika uang kartal hanya dapat dibuat oleh Bank Indonesia.

Giral memiliki permintaan yang tinggi di banyak negara industri, meskipun penggunaannya tidak sesederhana menggunakan kartal. Namun Indonesia juga sudah mulai bergerak ke arah itu, salah satunya penggunaan e-money.

Ciri-Ciri Uang Giral

Berikut adalah ciri-ciri dari uang giral:

  1. Tidak memiliki bentuk fisik seperti kertas dan logam
  2. Tidak bisa digunakan dalam transaksi langsung
  3. Dikeluarkan oleh bank swasta dalam bentuk giro atau rekening.

Uang Kuasi

Uang kuasi, sering dikenal sebagai quasy money, yang merupakan jenis-jenis uang di Indonesia yang secara signifikan lebih terikat waktu dan memiliki likuiditas relatif lebih rendah daripada mata uang dan uang giral.

Aset cepat tunai inilah yang selama ini digolongkan Bank Indonesia sebagai uang kuasi. Rekening tabungan dan deposito berjangka adalah dua contoh uang kuasi, karena tidak dapat digunakan untuk melakukan pembelian barang dan jasa secara langsung.

Tabungan dan deposito berjangka harus terlebih dahulu dikonversi menjadi uang melalui bank umum atau lembaga keuangan lainnya agar dapat dimanfaatkan.

Contoh Uang Kuasi

Contoh Uang Kuasi
Berikut adalah beberapa contoh uang kuasi:

  1. Rekening tabungan untuk devisa swasta domestik
  2. Tabungan di bank
  3. Deposito dalam berjangka

Ciri-ciri Uang Kuasi

Berikut adalah ciri dari uang kuasi:

  1. Tidak likuid
  2. Tidak dapat digunakan dalam transaksi langsung
  3. Penggunaannya terikat waktu.

Perbedaan Uang Kartal dan Uang Giral

Perbedaan Uang Kartal dan Uang Giral
Setidaknya beberapa perbedaan antara uang dan giro dapat ditemukan. Masih banyak variasi lain yang mungkin belum kamu ketahui, selain dari bentuk atau cara penggunaannya.

Dari segi praktis, menggunakan uang tunai atau kartal jauh lebih menguntungkan daripada menggunakan giral. Namun jika kita membawanya dalam jumlah besar, tentu akan membuat kita khawatir.

Jika kita mengalami kehilangan yang kartal, maka kita dapat melampornya kepada pihak berwajib, namun tentunya hal itu akan sulit untuk ditemukan kembali karena tidak terdapat identitas kepemilikannya.

Berbeda dengan giral, di mana kita dapat memberi tahu bank penerbit untuk melakukan pemblokiran. Sehingga, giral yang hilang tidak dapat dicarikan dalam bentuk uang.

Berikut adalah perbedaan lain dari uang kartal dan giral:

1. Berdasarkan Wujudnya atau Bentuk

Giral dan uang kartal secara mendasar berbeda dari dalam bentuknya. Seperti pengetahuan umum, uang kartal dalam bentuk koin dan uang kertas dan mudah digunakan kapan saja dan di mana saja.

Giral, biasanya dibuat sebagai surat berharga seperti cek, giro, bilyet, dan sebagainya. Namun seiring perkembangan zaman, kini ada jenis giro lain, termasuk e-money.

Giro mencakup hal-hal seperti kartu debit dan kredit, misalnya. Mirip dengan uang fisik, ada banyak bentuk uang elektronik yang dapat digunakan di aplikasi pembayaran smartphone saat ini.

2. Sifat

Perbedaan pada uang kartal dan giral dapat dilihat dari sifatnya karena giro banyak buat dalam upaya mengurangi produksi uang.

Namun, giral tidak dianggap sebagai alat pembayaran yang sah. Karena pada dasarnya, uang kartal lah yang menjadi alat pembayaran yang sah dan dapat diterima oleh semua orang.

Ini menyiratkan bahwa seseorang harus menerima pembayaran tunai tetapi memiliki opsi untuk menolak penggunaan giro.

Misalnya, sebagai pemasok atau penjual produk, kamu berhak menolak pembayaran giral dari pelanggan, tetapi kamu juga harus mau menerima uang tunai atau kartal.

Hal ini dapat kita simpulkan, jika uang kartal dapat digunakan oleh siapa saja. Sedangkan giral, hanya bisa digunakan oleh kalangan tertentu saja, seperti keperluan bisnis untuk membayar surat tagihan dari perusahaan lain.

3. Kepraktisan

Kepraktisan
Tidak diragukan lagi akan lebih mudah menggunakan uang kartal daripada giral. Namun, menempatkan giral akan jauh lebih sederhana dalam hal kepraktisan, seperti penyimpanan, misalnya.

Sedikitnya sepuluh lembar uang senilai Rp. 100.000 harus disimpan jika ingin menyimpan Rp. 1.000.000.

Sedangkan untuk menyimpan uang giral, kamu hanya perlu menggunakan satu kartu debit saja dalam jumlah nominal yang sama atau lebih.

Sehingga, uang giral ini mempunyai nilai praktis yang lebih baik dibanding uang kartal. Dan membuat masyarakat lebih nyaman menggunakan giral dari pada membawa uang kartal atau tunai, hal inilah yang disebur sebagai “cashless society”.

4. Kepemilikan

Saat bertransaksi dilakukan, uang kartal ini bersifat milik siapa saja bagi yang memegangnya. Bahkan uang hasil curian pun akan menjadi milik pencuri tersebut saat dia membeli barang dari toko, misalnya.

Hal ini disebabkan karena, uang kartal tidak terdapat identitas kepemilikannya. Berbeda dengan giral, dimana identitas pemiliknya diketahui. Misalnya, kartu kredit memiliki identifikasi yang melekat di setiap kartu.

Sehingga seseorang tidak dapat menggunakan uang giral ini jika bukan pemilik secara sah nya. Jika kamu menemukan uang di jalan, kamu dapat menggunakannya tanpa masalah untuk membeli minuman.

Namun, kamu tidak akan dapat langsung menggunakan uang itu jika kamu menemukan giral.

5. Keamanan

Dibandingkan dengan uang kartal, giral menawarkan keamanan yang lebih besar. Risiko kehilangan giral tidak diragukan lagi, karena jauh lebih rendah daripada risiko kehilangan uang kartal.

Sebagai contoh, jika kamu kehilangan dompet yang berisikan uang kartal dan giral. Maka uang kartal tersebut dapat langsung digunakan untuk bertransaksi oleh siapapun, sedangkan uang giral tidak.

Bahkan kamu bisa langsung melakukan pemblokitan agar uang giral seperti kartu debit atau kredit itu tidak dapat digunakan kembali.

Namun, mayoritas orang Indonesia masih lebih suka memegang uang tunai daripada girla. Meski toko yang akan mereka tuju siap menerima pembayaran melalui kartu debit, namun banyak konsumen yang memilih untuk melakukan tarik tunai di ATM saat ingin berbelanja.

6. Kewenangan Menciptakan atau Mengeluarkan

Kewenangan Menciptakan atau Mengeluarkan
Seperti dikatakan sebelumnya, hanya bank sentral atau Bank Indonesia lah yang berwenang untuk mengeluarkan uang kartal. Hal ini sesuai dengan Pasal 26 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968.

Berbeda dengan giral, yang dapat dibuat oleh organisasi dengan persetujuan pemerintah dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Misalnya, aplikasi teknologi keuangan yang menerbitkan alat pembayaran digital atau bank yang menerbitkan kartu kredit.

7. Berdasarkan Sistem Peredaran

Terakhir, terdapat variasi dalam penggunaan uang kartal dan giral dalam sistem peredaran. Untuk uang kartal, saat ini digunakan dan diterima sebagai alat pembayaran yang sah di hampir semua keadaan di Indonesia.

Tidak seperti giral, yang sering digunakan secara eksklusif dalam konteks tertentu. Biasanya dimiliki oleh orang-orang yang berpengalaman di bidang perbankan atau yang sering melakukan transaksi dengan nominal besar.

FAQ

Berikut kami telah merangkum beberapa pertanyaan yang biasa dipertanyakan seputar jenis-jenis uang di Indonesia:

Uang Kartal ada Berapa?

Uang kartal memiliki dua jenis bentuk, yaitu uang kertas dengan nominal tertinggi Rp. 100.000,000, dan yang logam dengan nilai nominal tertinggi Rp. 1000,00.

Siapa yang Menciptakan Uang Giral?

Uang giral di cipitakan atau di keluarkan oleh lembaga seperti bank swasta yang di awasi oleh OJK.

Apa Fungsi Uang?

Fungsi utama dari uang adalah sebagai alat pembayaran atau alat tukar yang disebut sebagai “medium of change”.

Kesimpulan

Itulah sedikit informasi mengenai jenis-jenis uang di Indonesia yang juga telah di akui oleh pemerintah.

Dan dari artikel ini dapatkan kita simpulkan, jika setiap jenis uang yang telah di akui di Indonesia ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Sepereti giral dan kartal, walaupun uang jenis giral ini memiliki keamanan yang lebih tinggi serta nilai kepraktisan yang dimilikinya.

Namun uang kartal lah yang masih banyak di gunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia karena jauh lebih mudah digunakan.

Demikianlah artikel kali ini dan jangan lupa untuk terus kunjungi website Infokekinian, karena kami juga memiliki banyak informasi dan rekomendasi lain yang tentunya akan bermanfaat dan membantu sobat kekinian.

/* */