Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara yang Melegenda

Cerita rakyat merupakan legenda yang diambil dari sebuah daerah yang mempunyai makna sangat mendalam. Biasanya, dalam cerita ini akan diilustrasikan apa yang akan terjadi jika sebuah tata krama umum atau peraturan adat dilanggar.

Cerita rakyat ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, namun lebih mengajarkan agar setiap orang menghargai adat maupun norma yang berlaku di tempat tersebut. Sebagai contoh cerita tentang Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya yang akhirnya dikutuk menjadi batu. Cerita daerahSumatra ini mengajarkan bahwa setiap anak harus berbakti kepada orang tua. Siapa pun yang mendurhakai orang tuanya, terutama ibu, hingga sang ibu sampai murka dan mengucapkan kutukan, niscaya Tuhan akan mengabulkannya seketika itu juga.

Di Indonesia ini, banyak sekali dongeng cerita rakyat yang beredar. Hal ini tidak lepas dari banyaknya suku dan adat istiadat yang ada di negeri Indonesia ini. Dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur mempunyai cerita legenda yang beragam. Tentu saja, masing-masing cerita tersebut mempunyai karakteristik dan makna yang berbeda.

Di zaman serba modern seperti sekarang ini, sudah sangat jarang muncul cerita rakyat baru. Namun begitu, cerita rakyat lama tetap tidak usang untuk dijadikan pelajaran hidup. Lalu, dari mana kita bisa mendapatkan contoh cerita rakyat nusantara? Tidak sulit sebenarnya.

Banyak buku yang memuat kumpulan dongeng pendek yang beredar di pasaran. Kamu juga bisa mencarinya di internet. Nah, sebagai penambah referensimu, berikut ini dua contoh dongeng rakyat tersebut.

Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara yang Melegenda

# Asal Mula Cerita Rakyat Tangkuban Perahu

Cerita ini mengisahkan tentang anak muda bernama Sangkuriang yang mempunyai ibu bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi sangat marah kepada anaknya ketika mengetahui anaknya tersebut telah mengusir Tumang, anjing piaraan mereka yang sebenarnya ayah kandung Sangkuriang.

Tanpa bisa dikendalikan, sang ibu memukul kepala Sangkuriang hingga meninggalkan bekas. Sangkuriang pun marah dan pergi dari rumah. Dayang Sumbi sangat menyesal dan berdoa untuk bisa bertemu dengan anaknya sampai kapan pun. Doanya ternyata dikabulkan. Ia dianugerahi umur panjang dan awet muda (tidak pernah tua). Suatu saat, Sangkuriang dewasa pulang ke kampung halaman dan bertemu Dayang Sumbi.

Sangkuriang dan Dayang Sumbi sama-sama jatuh cinta dan berniat untuk menikah. Namun, saat Dayang Sumbi melihat bekas pukulan di kepala Sangkuring, ia sadar bahwa calon suaminya tersebut tidak lain adalah anaknya. Akhirnya dicari akal agar pernikahan tersebut gagal. Ia mengajukan dua syarat, yaitu membendung Sungai Citarum dan membuat sampan besar dalam waktu satu malam.

Karena kesaktiannya tersebut, Sangkuriang hampir bisa menyelesaikan tugas tersebut. Dayang Sumbi tidak kalah cerdik. Ia kemudian meminta bantuan warga untuk membentangkan kain sutra merah di sebelah timur kota. Karena menganggap hari sudah pagi padahal pekerjaannya belum selesai, ia kemudian marah dan menjebol bendungan sungai hingga terjadi banjir besar dan desa itu tenggelam. Tidak hanya itu, ia juga menendang sampan besar hingga terbalik di tengah desa yang tenggelam tersebut. Hingga saat ini, sampan tersebut terkenal dengan Tangkuban Perahu.

# Asal Mula Cerita Rakyat Batu Menangis

Di sebuah bukit yang sangat jauh dari desa, hiduplah seorang janda tua dan anak gadisnya yang cantik. Sayangnya, anak tersebut sangat pemalas dan semua keinginannya harus dituruti tanpa melihat kondisi ibunya yang miskin.

Suatu saat, mereka berjalan menuju desa yang sangat jauh untuk berbelanja. Mereka berjalan kaki. Sang anak berjalan di depan dengan dandanan yang cukup mempesona, sedangkan ibunya berjalan tertatih-tatih di belakangnya. Setiap orang yang melihat gadis itu terpesona, terutama para pemuda. Namun, setiap ditanya apakah siapa orang yang berjalan di belakangnya, gadis itu menjawab pembantunya.

Pada awalnya sang ibu masih bisa bersabar. Namun, setelah beberapa kali anaknya menganggapnya sebagai pembantu atau budaknya, ia menjadi murka dan berdoa agar anaknya dihukum. Benar saja, tak berapa lama, sang gadis berubah menjadi batu secara perlahan dimulai dari kaki. Meskipun sang anak berteriak meminta ampun, kutukan itu tetap berjalan. Hingga akhirnya, seluruh tubuh sang anak berubah menjadi batu dan dari matanya masih terus mengalirkan air mata.

Semoga, melalui kumpulan cerita legenda di atas, kita menjadi semakin bijak dalam mengetahui kearifan lokal setiap daerah. Kita juga bisa mengambil hikmah yang tersembunyi dari cerita tersebut.Tidak hanya itu, banyaknya cerita rakyat yang beredar membuktikan kepada kita bahwa negara kita sangat beragam dan kaya akan kebudayaan maupun adat istiadatnya. Jadilah penerus bangsa yang bangga terhadap kekayaan negeri sendiri dan mampu melestarikannya hingga sampai ke anak cucu kita.

Tinggalkan komentar