Advertisements

9 Peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang Menakjubkan

Sobat Kekinian, selamat datang di artikel ini yang akan membahas peninggalan dari kerajaan sriwijaya yang merupakan salah satu kerajaan maritim yang berada di pulau Sumatera.

Dalam artikel ini, InfoKekinian akan mengajak kamu untuk menjelajahi sejarah, artefak, dan kekayaan budaya yang ditinggalkan oleh salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.

Sejarah Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Maka dari itu, yuk simak artikel ini hingga selesai untuk mengetahui apa saja peninggalan dari kerajaan sriwijaya secara lengkap dan jelas.

Sejarah Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya, sebuah kerajaan maritim yang berpusat di Pulau Sumatera, pernah menjadi salah satu kekuatan dominan di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.

Dalam masa kejayaannya, Kerajaan Sriwijaya meluas hingga ke Semenanjung Malaya, Jawa, dan bahkan mencapai Kepulauan Filipina.

Peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Berikut adalah beberapa peninggalan dari kerajaan sriwijaya:

1. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur adalah salah satu peninggalan dari kerajaan sriwijaya yang paling bersejarah. Prasasti ini ditemukan di Kota Kapur, Pulau Bangka, Sumatera Selatan.

Prasasti ini memiliki keunikan karena terbuat dari batu kapur dan berisi inskripsi dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti Kota Kapur ditemukan pada tahun 1920 oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama N.J. Krom.

Prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi dan berisi tentang penetapan pajak oleh Raja Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Isi prasasti ini memberikan gambaran tentang sistem administrasi dan kekuasaan kerajaan pada masa itu.

Prasasti Kota Kapur memiliki ukuran sekitar 1,74 meter dengan tinggi sekitar 1,26 meter.

Teks inskripsi pada prasasti ini menjelaskan tentang penetapan pajak di wilayah Kota Kapur yang meliputi pajak atas hasil bumi seperti beras, buah-buahan, daging, dan ikan. Pajak tersebut akan dikumpulkan untuk kepentingan kerajaan.

Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan nama-nama pejabat kerajaan yang bertanggung jawab atas pengumpulan dan administrasi pajak di wilayah Kota Kapur.

Prasasti Kota Kapur memberikan bukti konkret tentang keberadaan dan kegiatan administratif Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Prasasti Kota Kapur merupakan salah satu saksi bisu dari kejayaan dan sistem pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Keberadaan prasasti ini memberikan bukti nyata tentang eksistensi dan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di pulau-pulau sekitarnya, termasuk Pulau Bangka.

Prasasti Kota Kapur saat ini telah dipindahkan ke Museum Nasional di Jakarta untuk dijaga dan dipamerkan kepada masyarakat. Kehadirannya menjadi saksi penting dalam mempelajari sejarah Kerajaan Sriwijaya dan menjadi salah satu daya tarik budaya dan pariwisata di Indonesia.

2. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit adalah salah satu peninggalan dari kerajaan sriwijaya yang juga bersejarah.

Prasasti ini ditemukan di Desa Talang Tuwoh, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Prasasti Kedukan Bukit merupakan prasasti tertua yang masih ada di Indonesia dan berasal dari abad ke-7 Masehi.

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada tahun 1920 oleh seorang petani bernama Mas Rajo. Prasasti ini terbuat dari batu andesit dan memiliki ukuran sekitar 82 x 122 cm.

Teks inskripsi pada prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti Kedukan Bukit berisi tentang pemberian tanah oleh Raja Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa kepada seorang pendeta Buddha bernama Sanghaprabhu.

Pemberian tanah ini merupakan bentuk dukungan dan perlindungan dari raja terhadap agama Buddha.

Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan tentang kegiatan pembangunan stupa yang dilakukan oleh Sanghaprabhu sebagai tempat pemujaan dan ibadah umat Buddha.

Prasasti Kedukan Bukit menjadi bukti penting tentang eksistensi agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya dan komitmen raja dalam mendukung agama tersebut.

Isi prasasti ini juga memberikan informasi tentang sistem administrasi dan pengelolaan tanah pada masa itu.

Prasasti Kedukan Bukit menyebutkan tentang pembagian tanah kepada rakyat untuk digarap dan ditanami serta kewajiban membayar pajak dalam bentuk hasil bumi.

Keberadaan Prasasti Kedukan Bukit sangat berarti dalam mempelajari sejarah Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti ini mengungkapkan hubungan antara agama Buddha dan pemerintahan pada masa itu, serta memberikan gambaran tentang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Sriwijaya.

Saat ini, prasasti ini disimpan dan dipamerkan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti Kedukan Bukit menjadi salah satu saksi penting dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan menjadi objek penelitian yang berharga bagi para sejarawan dan arkeolog.

3. Prasasti Talang Tuo

Prasasti Talang Tuo
Prasasti Talang Tuo adalah salah satu peninggalan bersejarah yang signifikan dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan di desa Talang Tuo, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi dan menjadi bukti nyata kejayaan dan pengaruh Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Talang Tuo terbuat dari batu andesit dengan ukuran sekitar 1,46 meter tingginya dan memiliki inskripsi yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1924 oleh seorang petani bernama M. Yusuf. Isi dari Prasasti Talang Tuo mencakup beberapa informasi yang penting.

Prasasti ini mengungkapkan tentang upacara persembahan dan penghormatan yang dilakukan oleh seorang kepala suku bernama Sriwijaya Maharaja kepada dewa-dewa Hindu.

Upacara ini melibatkan pembakaran dupa, persembahan bunga, dan upacara pemujaan yang dilakukan secara berkala.

Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan tentang pembangunan sebuah kuil atau candi yang bernama Vajrasana. Kuil ini didirikan oleh Sriwijaya Maharaja untuk menjadi tempat ibadah dan meditasi.

Prasasti Talang Tuo juga memberikan petunjuk tentang struktur dan arsitektur kuil tersebut.

Prasasti Talang Tuo juga menyebutkan beberapa nama pejabat dan tokoh yang terlibat dalam upacara persembahan dan pembangunan kuil.

Hal ini menunjukkan adanya struktur pemerintahan dan hierarki yang terorganisir dengan baik di Kerajaan Sriwijaya.

Kehadiran Prasasti Talang Tuo menjadi bukti penting tentang eksistensi agama Hindu di Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Prasasti ini menunjukkan adanya pengaruh Hindu dalam kehidupan agama dan budaya masyarakat Sriwijaya.

4. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu adalah salah satu peninggalan bersejarah yang penting dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan di Telaga Batu, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi dan menjadi saksi bisu dari kejayaan dan peradaban Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Telaga Batu terbuat dari batu andesit dengan ukuran sekitar 68 x 54 cm. Teks inskripsi pada prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1920 oleh seorang petani.

Prasasti Telaga Batu berisi tentang persembahan yang dilakukan oleh seorang pejabat tinggi Kerajaan Sriwijaya yang bernama Sri Maharaja.

Persembahan ini meliputi berbagai jenis hewan seperti kerbau, sapi, kambing, babi, dan ayam.

Prasasti ini juga menyebutkan tentang persembahan berupa hasil bumi seperti padi, jagung, dan buah-buahan.

Isi prasasti ini memberikan gambaran tentang praktik keagamaan dan kegiatan ritual dalam Kerajaan Sriwijaya.

Persembahan ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada dewa-dewa dan peningkatan kesejahteraan kerajaan.

Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan tentang pembangunan sebuah kolam yang bernama Sriwijaya.

Kolam ini dibangun oleh Sri Maharaja dan dihiasi dengan patung-patung dewa Hindu. Kolam ini berfungsi sebagai tempat penyucian dan ritual keagamaan.

Prasasti Telaga Batu menjadi bukti keberadaan agama Hindu di Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Prasasti ini mencerminkan pengaruh Hindu dalam kehidupan agama dan budaya masyarakat Sriwijaya.

5. Prasasti Karang Berahi

Salah satu peninggalan dari kerajaan sriwijaya yang bersejarah berikutnya adalah prasasti karang berahi yang ditemukan di Desa Karang Berahi, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi dan memberikan bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya di wilayah tersebut.

Prasasti Karang Berahi terbuat dari batu andesit dengan ukuran sekitar 152 x 135 cm. Teks inskripsi pada prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1920 oleh seorang petani.

Prasasti ini mengungkapkan tentang pemberian tanah oleh seorang pejabat tinggi Kerajaan Sriwijaya yang bernama Sri Indravarman kepada seorang pendeta Buddha bernama Sanghapala.

Pemberian tanah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan dan perlindungan terhadap agama Buddha.

Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan tentang pembangunan sebuah vihara atau kuil Buddha yang bernama Vajrasana.

Sanghapala bertanggung jawab atas pembangunan dan pengelolaan vihara ini. Prasasti Karang Berahi memberikan petunjuk tentang struktur dan fungsi vihara tersebut sebagai pusat ibadah dan tempat penyebaran ajaran Buddha.

Prasasti Karang Berahi juga memberikan informasi tentang sistem administrasi dan pengelolaan tanah pada masa itu.

Prasasti ini mencatat tentang pembagian tanah kepada petani untuk digarap dan ditanami serta kewajiban membayar pajak dalam bentuk hasil bumi.

Keberadaan Prasasti Karang Berahi menjadi saksi sejarah yang berharga dalam mempelajari Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti ini mengungkapkan hubungan antara pemerintahan dan agama Buddha dalam Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

6. Candi Muara Takus

Candi Muara Takus
Candi Muara Takusadalah kompleks candi yang terletak di Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Candi ini merupakan salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Sriwijaya. Candi Muara Takus dibangun pada abad ke-9 Masehi dan menjadi bukti kejayaan dan kebesaran Kerajaan Sriwijaya di wilayah tersebut.

Kompleks Candi Muara Takus terdiri dari beberapa bangunan candi yang terbuat dari batu bata merah.

Candi utama dalam kompleks ini adalah Candi Mahligai, yang memiliki arsitektur yang megah dan mewakili keagungan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Candi Mahligai memiliki struktur utama berbentuk persegier dengan ukuran sekitar 27 x 27 meter. Candi ini memiliki beberapa tingkat dengan relief-relief yang menghiasi dindingnya.

Relief-relief ini menggambarkan adegan keagamaan, mitologi, dan kehidupan sehari-hari pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Selain Candi Mahligai, kompleks Candi Muara Takus juga memiliki beberapa candi pendamping, seperti Candi Palangka, Candi Pasiraman, dan Candi Tua.

Candi-candi pendamping ini memiliki bentuk dan ukuran yang lebih kecil, tetapi tetap menampilkan keindahan arsitektur dan ukiran yang khas.

Selama bertahun-tahun, Candi Muara Takus mengalami kerusakan dan perlu dilakukan restorasi untuk menjaga kelestariannya.

Pada tahun 1937, restorasi pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dan kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia.

Candi Muara Takus menjadi objek wisata sejarah yang populer di Riau. Kehadirannya menarik minat wisatawan dan peneliti untuk mempelajari sejarah dan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya.

Kompleks candi ini juga menjadi saksi bisu dari peradaban dan pengaruh agama Buddha di wilayah ini.

Saat ini, Candi Muara Takus dilindungi dan diawasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Riau.

Pengunjung dapat menikmati keindahan arsitektur dan keberadaan relief-relief yang menghiasi candi-candi di kompleks ini, serta menikmati suasana spiritual dan sejarah yang kental.

7. Prasasti Hujung Langit

Prasasti Hujung Langit, juga dikenal sebagai Prasasti Telaga Batu II, adalah salah satu peninggalan sejarah yang penting dari Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti ini ditemukan di Desa Karang Anyar, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Prasasti ini berasal dari abad ke-9 Masehi dan memberikan bukti keberadaan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Jawa Barat.

Prasasti Hujung Langit terbuat dari batu andesit dengan ukuran sekitar 1,35 meter tingginya dan memiliki inskripsi yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1957 oleh seorang petani.

Prasasti ini mengungkapkan tentang penyerahan tanah oleh seorang pejabat Sriwijaya bernama Sri Surawisesa kepada seorang pemuka agama Buddha bernama Sanghapalita.

Penyerahan tanah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan dan perlindungan terhadap agama Buddha.

Prasasti ini juga mencatat tentang pembangunan sebuah vihara yang bernama Vajrasana oleh Sanghapalita.

Vihara ini berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, meditasi, dan studi agama Buddha. Prasasti Hujung Langit memberikan petunjuk tentang struktur dan fungsi vihara tersebut.

Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan tentang adanya jaminan keamanan dan perlindungan terhadap para biksu yang tinggal di vihara tersebut.

Hal ini menunjukkan adanya pengaruh dan dukungan kuat dari Kerajaan Sriwijaya terhadap agama Buddha pada masa itu.

Prasasti Hujung Langit memberikan gambaran tentang hubungan antara pemerintahan Kerajaan Sriwijaya dengan agama Buddha di Jawa Barat.

Prasasti ini menjadi bukti keberadaan dan pengaruh agama Buddha di luar wilayah Sumatera, tempat asal Kerajaan Sriwijaya.

8. Prasasti Leiden

Prasasti Leiden, juga dikenal sebagai Prasasti Nalanda, adalah sebuah prasasti penting yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan di daerah Nalanda, Bihar, India pada tahun 1863.

Meskipun ditemukan di India, prasasti ini memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Sriwijaya di Indonesia.

Prasasti Leiden terbuat dari lempengan tembaga berukuran sekitar 57 x 37 cm.

Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa. Isi prasasti ini berisi tentang pemberian hadiah oleh seorang pemimpin Sriwijaya yang bernama Balaputradewa kepada biara Nalanda.

Isi prasasti ini menyebutkan tentang hadiah berupa perunggu, sutra, permata, dan uang emas yang diberikan kepada biara Nalanda.

Prasasti Leiden memberikan bukti tentang hubungan dagang dan diplomatik antara Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di India pada masa itu.

Selain itu, prasasti ini juga memberikan informasi tentang kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh para pejabat Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Leiden mencatat tentang pendirian sebuah bangunan suci di India yang bernama Vihara Sangharama oleh Balaputradewa.

Vihara ini berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pembelajaran agama Buddha.

Prasasti Leiden memiliki nilai sejarah yang besar karena memberikan bukti tentang hubungan politik, ekonomi, dan keagamaan Kerajaan Sriwijaya dengan India pada masa lalu.

Prasasti ini juga menjadi saksi bisu dari pengaruh budaya dan agama Buddha yang tersebar di wilayah Asia Tenggara.

Prasasti Leiden saat ini disimpan di Museum Nasional Etnologi di Leiden, Belanda.

Kehadirannya menjadi bukti penting dari kejayaan dan pengaruh Kerajaan Sriwijaya serta menjadi objek penelitian yang berharga bagi para ahli sejarah dan arkeolog.

Prasasti Leiden memberikan wawasan yang berharga tentang hubungan lintas budaya dan peran Sriwijaya dalam perdagangan maritim dan penyebaran agama Buddha.

9. Prasasti Ligor

Prasasti Ligor
Prasasti Ligor, juga dikenal sebagai Prasasti Batu Ligor, adalah salah satu prasasti bersejarah yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti ini ditemukan di desa Ligor, Distrik Sikhoraphum, Provinsi Surin, Thailand. Prasasti ini memberikan bukti keberadaan pengaruh dan dominasi Kerajaan Sriwijaya di wilayah Indocina pada abad ke-8 Masehi.

Prasasti Ligor terbuat dari batu pasir berukuran sekitar 57 x 52 cm. Teks prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1901 oleh seorang petani dan kemudian dipindahkan ke Museum Thailand.

Isi dari Prasasti Ligor mencakup informasi penting tentang kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh raja Sriwijaya yang bernama Chulamanivarmadeva.

Prasasti ini mencatat tentang pembangunan sebuah stupa atau pagoda Buddha yang bernama Chudamani Vihara, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan spiritual.

Prasasti Ligor juga mencatat tentang perlindungan yang diberikan oleh raja Chulamanivarmadeva terhadap para pendeta dan pengikut agama Buddha.

Hal ini menunjukkan pengaruh kuat dan dukungan kerajaan terhadap agama Buddha pada masa itu.

Selain itu, prasasti ini juga mencatat tentang pemberian hadiah berupa tanah dan pengaturan pajak kepada biara yang terkait dengan Chudamani Vihara.

Hal ini menunjukkan adanya sistem administrasi dan pengelolaan tanah yang terorganisir dengan baik dalam Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Ligor menjadi saksi sejarah yang penting dalam mempelajari peran dan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di wilayah Indocina.

Prasasti ini memberikan gambaran tentang hubungan politik, ekonomi, dan agama antara Kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut.

Kehadiran Prasasti Ligor menjadi bukti nyata dari kejayaan dan pengaruh Kerajaan Sriwijaya serta memberikan wawasan yang berharga tentang agama, budaya, dan sistem pemerintahan pada masa lalu.

Prasasti ini menjadi objek penting dalam studi arkeologi dan sejarah regional Asia Tenggara.

Kesimpulan

Itulah sedikit informasi mengenai beberapa peninggalan dari kerajaan sriwijaya yang perlu kamu ketahui.

Melalui peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya, kita dapat melihat dan menghargai kejayaan masa lalu Indonesia.

Dari artefak bersejarah hingga pengaruh budaya yang masih terasa, Kerajaan Sriwijaya telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi peradaban di Asia Tenggara.

Dengan menjaga dan memelihara peninggalan ini serta meningkatkan kesadaran akan kekayaan budaya ini, kita dapat memastikan bahwa warisan Kerajaan Sriwijaya akan tetap hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi masa depan.

Teruslah menjaga kekayaan sejarah kita, Sobat Kekinian, dan mari kita banggakan warisan budaya kita yang luar biasa ini.