Proses Akulturasi Di Indonesia: Pengertian dan Faktornya

InfoKekinian.com – Sobat Kekinian, yuk simak pengertian dan proses akulturasi di Indonesia serta faktor pendorong terjadinya proses perubahan sosial.

Masyarakat sosiologis menerima gagasan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Ini menunjukkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan orang dan masyarakat akan selalu bergerak.

Apa Itu Akulturasi Budaya
Masyarakat yang dapat beradaptasi akan bertahan karena perubahan adalah sesuatu yang diberikan.

Perubahan sosial adalah gagasan yang mewakili gagasan perubahan. Salah satu jenis perubahan sosial yang banyak terjadi di sekitar kita adalah akulturasi.

Apa Itu Akulturasi Budaya?

Dari segi bahasa, kata “akulturasi” berasal dari bahasa Latin “acculturate”, yang berarti berkembang dan tumbuh bersama orang lain.

Dimungkinkan untuk menganggap akulturasi sebagai upaya untuk berkembang dan berkembang bersama. Awalnya mempengaruhi perubahan individu sebelum mempengaruhi kelompok.

Akulturasi budaya ini terjadi antara dua budaya yang berbeda, yang pada akhirnya berbenturan dan bertemu dalam kedamaian dan keharmonisan. Sebuah budaya baru dapat diciptakan melalui perpaduan dua budaya ini.

Ciri budaya lama tidak akan hilang meskipun terjadi akulturasi dua budaya yang berbeda. Kita tidak perlu khawatir dengan akulturasi budaya karena ciri-ciri budaya asli akan tetap ada.

Akulturasi budaya ini biasanya terjadi antara penduduk lokal atau penduduk asli dengan pendatang dari daerah lain.

Proses Akulturasi

Proses Akulturasi
Perpaduan budaya asing dengan budaya asli menjadi akar penyebab terjadinya akulturasi. Seni kuliner, desain busana, arsitektur, dan profesi lainnya adalah contoh bidang yang sering mengalami akulturasi.

Proses akulturasi berlangsung sangat lambat atau lambat, seperti yang dikatakan sebelumnya.

Sebuah budaya baru lahir dalam masyarakat yang akulturasinya memakan waktu lama, hingga bertahun-tahun.

Sepengetahuan kami, proses akulturasi tidak bisa dilepaskan dari masyarakat luar atau budaya asing. Tidak mungkin budaya baru bisa langsung diterima.

Karakteristik masyarakat terus memiliki dampak yang signifikan terhadap diterima atau ditolaknya suatu masyarakat atau budaya.

Jadi, tidak semua percampuran budaya dapat menghasilkan transformasi sosial. Karena itu, proses akulturasi memakan waktu lama dan melelahkan.

Namun, jika proses akulturasi budaya diperhatikan, mungkin ada beberapa penyebab. Mereka termasuk yang sesuai dengan kriteria yang tercantum di bawah ini:

1. Substitusi

Karena akulturasi budaya akan menggantikan budaya lama dengan komponen budaya baru, maka dikatakan sebagai substitusi. Mengambil budaya komunikasi masa lalu dan sekarang sebagai contoh.

Dulu, hanya bilik telepon atau email yang digunakan untuk komunikasi jarak jauh. Namun saat ini, komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat hanya dengan menggunakan internet.

Saat ini, kita hanya perlu menggunakan layanan pesan singkat untuk memberi tahu banyak orang tentang apa pun secara instan, berbeda dengan praktik tradisional menggunakan kentongan untuk memanggil warga.

2. Adisi

Perpaduan budaya lama dan baru di Addisi memungkinkan warga untuk hidup nyaman dan berkecukupan.

Misalnya, di masa lalu, semua moda angkutan umum hanya mengandalkan tenaga hewan, seperti kuda, gerobak, dan pertunjukan.

Angkutan umum, sepeda motor, mobil, kapal laut, dan pesawat terbang menjadi pilihan transportasi saat ini.

3. Originasi

Akulturasi merupakan proses kunci memasuki budaya baru dan terjadi untuk pertama kalinya. Oleh karena itu, ketika unsur-unsur budaya baru datang, akan ada perubahan yang nyata.

Ketika listrik pertama kali tiba di desa, misalnya, daerah itu tidak memiliki listrik sama sekali. cukup bahwa secara substansial mengubah bagaimana lingkungan berperilaku.

Mereka bisa menonton televisi, mendengarkan radio, dan bahkan memasak dengan listrik hari ini selain menikmati cahaya lampu.

4. Sinkretisme

Sinkretisme
Dua komponen budaya yang membentuk sinkretisme adalah yang baru dan yang lama. Misalnya, kepercayaan agama nenek moyang di Indonesia sebelum kedatangan Islam

Khas Indonesia akan menganut akidah Buddha dan Hindu. Akulturasi kepercayaan mulai terjadi ketika Islam mulai menyebar ke seluruh pelosok tanah air.

Dimana percampuran budaya baru dan lama menyebabkan ajaran Islam di Indonesia berkembang menjadi sistem kepercayaan kejawen.

5. Dekulturasi

Dekulturasi mungkin masih menjadi ungkapan yang banyak dari kita belum familiar. Dekulturasi adalah akulturasi budaya yang terjadi sebagai akibat dari proses hilangnya aspek budaya lama dan menggantikannya dengan yang baru.

Misalnya, masyarakat Indonesia biasa menyiapkan beras panen langsung untuk dimasak dengan terlebih dahulu ditumbuk dalam lesung untuk memenuhi kebutuhannya.

Namun, kini mesin gerinda sudah bisa digunakan untuk memproses hasil panen dengan segera.

6. Rejeksi

Sedangkan proses penolakan itu sendiri yang dimaksud dengan kata tersebut.

Alasan penolakan biasanya karena masyarakat tidak siap untuk melaksanakan reformasi sosial. Ini tidak baik untuk wilayah yang belum siap untuk berubah.

Faktor Pendorong Akulturasi Budaya

Beberapa unsur yang mendorong proses akulturasi budaya tercantum di bawah ini, antara lain:

1. Pendidikan yang Maju

Pendidikan yang maju merupakan salah satu faktor kunci yang mempengaruhi akulturasi budaya.

Wawasan masyarakat tentang budaya selain budaya mereka sendiri dapat diperluas melalui pendidikan.

Paparan budaya lain akan membantu kemajuan masyarakat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi zaman yang maju secara teknologi.

Pendidikan juga dapat membantu orang memahami dengan lebih baik efek sosial dari norma budaya yang dipaksakan secara eksternal dan norma budaya lokal.

2. Sikap dan Perilaku Saling Menghargai Budaya

Sikap dan Perilaku Saling Menghargai Budaya
Orang perlu bertindak dan berpikir dengan cara yang mempromosikan rasa hormat terhadap budaya lain agar memiliki hubungan positif dengan mereka.

Tidak diragukan lagi, salah satu kekuatan utama akulturasi budaya adalah sikap dan tindakan penghormatan terhadap budaya ini.

Ini akan menjadi tantangan bagi orang-orang yang kekurangan ini untuk terpengaruh oleh budaya luar.

Permusuhan dan permusuhan antarbudaya dapat terjadi karena hal ini. Dengan demikian, akulturasi budaya tidak akan terjadi.

3. Toleransi Terhadap Budaya Lain

Setiap orang memiliki warisan budaya yang unik. Di tengah keadaan tersebut, toleransi budaya menjadi sangat penting dalam menumbuhkan akulturasi budaya.

Sedangkan bertemu orang baru dan membaur budaya dibuat lebih sederhana dengan sikap toleran.

Ini terjadi karena toleransi mendorong keterbukaan yang lebih besar di antara individu-individu yang tidak khawatir kehilangan unsur-unsur khas budaya mereka sendiri.

4. Adanya Masyarakat Heterogen

Masyarakat yang beragam merupakan faktor utama terjadinya akulturasi budaya yang berlangsung cukup cepat.

Dimana individu dapat berbaur berbagai budaya. Ini akan mempermudah dua orang untuk belajar tentang budaya yang berbeda bersama-sama.

5. Berorientasi ke Masa Depan

Setiap orang pasti akan harus berurusan dengan masa depan di beberapa titik. Oleh karena itu, orang yang berorientasi ke masa depan akan lebih mengenal berbagai rencana dan kesiapan.

agar dapat menginspirasi individu untuk selalu menerima perkembangan zaman atau masyarakat di sekitarnya.

Faktor Eksternal Pendorong Akulturasi Budaya

Namun, selain unsur internal, berikut daftar faktor eksternal yang dapat mendukung akulturasi budaya:

1. Perubahan dan Fenomena Alam

Perubahan dan kejadian alam lainnya seperti banjir, gempa bumi, dan sebagainya adalah dua kekuatan eksternal yang berkontribusi terhadap akulturasi budaya.

Beberapa kejadian alam ini memaksa penduduk setempat untuk pindah karena lingkungan mereka tidak lagi cocok untuk tempat tinggal.

Orang akan terdorong oleh ini untuk pindah dan menyesuaikan diri dengan akulturasi baru.

2. Pengaruh Budaya Luar Melalui Proses Difusi atau Penyebaran

Orang yang berpendidikan rendah akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami budaya dari negara lain.

Oleh karena itu, keberadaan individu yang melakukan perjalanan dan berbagi budaya akan sangat membantu dalam proses akulturasi.

3. Konflik Internasional

Jika orang memiliki sentimen yang sama dengan korban perang, maka perang bisa menjadi salah satu kekuatan di balik akulturasi budaya.

Oleh karena itu, proses akulturasi budaya tidak dapat dialami oleh semua orang dalam suatu masyarakat. sehingga budaya mereka tetap memiliki tampilan yang unik.

Faktor Penghambat Akulturasi

Faktor Penghambat Proses Akulturasi Di Indonesia
Beberapa kendala akulturasi di suatu tempat antara lain sebagai berikut:

1. Ilmu Pengetahuan yang Bergerak Lambat

Kualitas pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat.

Sebuah budaya akan menjadi stagnan di daerah di mana ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak dibudidayakan.

Karena individu adalah aktor budaya dan kurang memahami budaya lain, ini sangat menghambat akulturasi.

2. Sikap Masyarakat yang Tradisional

Biasanya, orang-orang tradisional akan selalu teguh dalam komitmen mereka terhadap budaya mereka sendiri dan percaya bahwa pengenalan budaya baru dapat membahayakan kelangsungan hidup mereka sendiri.

Oleh karena itu, cukup menantang bagi masyarakat tradisional untuk mengadopsi budaya asing.

Karena mereka percaya budaya mereka sebagai yang terbaik, masyarakat tradisional memiliki kecenderungan untuk mengisolasi diri dari budaya lain.

3. Hal-hal Baru Dianggap Tabu

Jika orang percaya bahwa sesuatu yang baru itu jahat, akulturasi budaya tidak akan pernah terjadi. Perubahan adalah salah satu hal baru.

Faktor masyarakat untuk berubah akan terhambat oleh mereka yang sulit beradaptasi dengan budaya baru. Akulturasi tidak akan terjadi, dengan demikian.

4. Adat atau Kebiasaan

Salah satu penghambat akulturasi adalah adat atau perilaku yang sudah mendarah daging sejak kecil. Akibatnya, ketika seseorang bertemu dengan budaya baru, mereka akan menganggapnya asing.

Orang-orang dengan kebiasaan kaku biasanya merasa lebih sulit untuk beradaptasi dengan budaya asing.

Contoh Akulturasi

Relatif mudah untuk mengungkap contoh-contoh akulturasi budaya dalam masyarakat Indonesia.

Hal ini karena masyarakat Indonesia mewakili berbagai macam suku bangsa, ekspresi budaya, kepercayaan, dan kelompok etnis.

Contoh akulturasi yang terjadi di Indonesia antara lain sebagai berikut:

Kesenian Gambang Semarang

Kesenian Gambang Semarang merupakan produk perpaduan budaya Jawa dan Cina.

Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Akulturasi budaya penduduk Bugis dan Sunda di Sukabumi, Jawa Barat, menyebabkan terciptanya Pelabuhan Ratu Sukabumi.

Kue Lapis Legit (di era kolonial Belanda disebut spekkoek)

Kue Lapis Legit
Salah satu masakan tradisional masyarakat Indonesia adalah kue lapis legit. Ternyata akulturasi budaya Belanda dan Indonesia inilah yang menyebabkan terciptanya kue lapis legit.

Soto

Akibat percampuran budaya Tionghoa dengan daerah Indonesia, maka soto banyak bermunculan di Indonesia, seperti Jawa, Makassar, Medan.

Pie Susu

Pie Susu yang sering diberikan kepada wisatawan asal Bali sebagai oleh-oleh sebenarnya merupakan hasil perpaduan budaya Eropa (Inggris dan Portugis), China (Hong Kong), dan Indonesia (Bali).

Bakpao

Bakpao bukanlah masakan asli Indonesia, tapi sebaliknya, bakpao adalah hasil perpaduan tradisi kuliner Cina dan Indonesia.

Masjid Langgar Tinggi, Pekojan, Jakarta Barat

Akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa menyebabkan dibangunnya Masjid Langgar Tinggi.

Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran, Yogyakarta

Budaya arsitektur tradisional Jawa dan Eropa dipadukan untuk menciptakan Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran.

Kesenian Teater Cekepung

Perpaduan antara tradisi Jawa, Bali, dan Lombok menyebabkan akulturasi teater cekepung. Biasanya, Bali adalah tempat seni ini dipentaskan.

Kecap Manis

Akulturasi budaya Eropa, Cina, dan Indonesia menyebabkan berkembangnya kecap manis yang selama ini kita nikmati sebagai topping kuliner.

FAQ

Berikut kami telah merangkum beberapa pertanyaan yang biasa dipertanyakan:

Apa Bedanya antara Asimilasi dan Akulturasi?

Asimilasi adalah peleburan dua kebudayaan dan menghasilkan budaya baru, sedangkan akulturasi merupakan percampuran dua kebudayaan tanpa menghilangkan budaya aslinya.

Apa Tujuan dari Akulturasi?

Tujuan dari akulturasi ini adalah menggabungkan budaya lama dengan budaya baru, tetapi tetap tidak menghilangkan atau menggantikan budaya aslinya.

Kesimpulan

Itulah sedikit informasi mengenai proses akulturasi di Indonesia lengkap dengan pengertian serta faktor pendorong dan juga contoh dari proses akulturasi budaya.

Dan dari sini bisa kita simpulkan jika, proses akulturasi di Indonesia terdapat enam kriteria seperti, subtitusi, adisi, originasi, sinkretisme dekulturasi dan rejeksi.

/* */